Senin, 26 Agustus 2013

Hinata selalu merasa Naruto Membencinya



Hinata selalu merasa Naruto Membencinya | Sejak pertama bertemu hingga sekarang, Naruto selalu bersikap dingin dan acuh padanya. Padahal di depan orang lain selain dirinya, Naruto selalu menjadi pribadi yang ceria, suka tertawa dan tersenyum, jahil, dan cerewet. Entah apa alasan Naruto sehingga memperlakukannya berbeda dengan yang lain. Namun menurut Hinata, ada perasaan yang disimpan oleh pemuda itu baginya.

Perasaan benci.

Jika mereka saling berpandangan, Naruto akan segera membuang muka. Jika berpapasan di jalan, Naruto pasti melengos. Jika Hinata menyapanya, Naruto jelas mengacuhkannya. Apa lagi itu namanya kalau bukan benci?

Dan sejujurnya Hinata sudah sangat lelah menerima perlakuan itu dari Naruto. Sudah setahun lebih dia hanya menunggu, mengharapkan hati pemuda itu mulai melunak dan sudi bersikap sedikit baik padanya.

Tapi sia-sia. Naruto tetap saja dingin seperti biasa. Memandangnya dengan tatapan tajam yang menyakitkan. Mengucapkan kata-kata yang melukai hatinya. Dan Hinata sudah lelah dengan semua itu. Dia sudah memutuskan menyerah untuk mendapatkan hati Naruto.

Ya, Hyuuga Hinata memang telah menyukai Naruto sejak pertama mereka masuk SMA Konohagakuen ini. Dia sendiri juga tidak mengerti, kenapa ia bisa sangat menyukai pemuda Uzumaki itu, dan ia tidak bisa mengingkari perasaannya sendiri, hingga ia hanya bisa memandang dari jauh sosok Naruto yang tanpa disadari telah menjadi sumber semangat dan inspirasi bagi seorang Hyuuga Hinata.

"Tidak ada gunanya terus menunggu seseorang yang aku tahu tidak akan pernah membalas perasaanku," gumam Hinata, "Aku harus melangkah maju, masih banyak orang lain yang jauh lebih baik dari Naruto. Yah, Gaara contohnya."

Hinata tersenyum membayangkan pemuda berambut merah itu. Ah, kenapa sekarang dia baru menyadarinya. Gaara sangat baik dan tulus, tapi tak sekalipun Hinata memikirkannya. Matanya sudah dibutakan oleh Naruto, dan bagi Hinata, sekaranglah saatnya dia lepas dari belenggu itu.

"Aku tidak akan pernah peduli lagi dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Naruto." Hinata menyakinkan dirinya sendiri.

KREET

Pintu Ruang Olahraga terbuka. Hinata menoleh kaget. Siapa orang yang datang ke ruang olahraga sepagi ini? Batinnya.

Dari pintu, masuklah pemuda tinggi berambut pirang dengan tampang datarnya saat matanya menangkap sosok Hinata. Hinata tercekat. Naruto… Batinnya. Kenapa dia muncul di saat seperti ini?

"Na-Naruto, sedang apa kau sepagi ini di Ruang Olahraga?" Tanya Hinata sedikit gugup.

Naruto memandangnya dengan ujung matanya. "Bukan urusanmu, kan?" jawabnya dingin.

Hinata tersenyum kecil. Ah, dia yang dulu pasti hanya akan pasrah saja jika diperlakukan seperti itu. Tapi sekarang sudah berbeda bukan? Hinata sudah bertekad untuk tidak mencintainya lagi. Jadi dengan tatapan berani Hinata memandang Naruto.

"Kurasa itu urusanku Uzumaki Naruto. Aku manager klub basket ini, sudah sewajarnya aku tahu apa yang membuatmu mendatangi ruang olahraga sepagi ini," balas Hinata. Ia sendiri heran kenapa ia bisa bicara dengan tegas seperti ini, tidak seperti ia yang biasanya selalu gugup jika berhadapan dengan Naruto.

Naruto mengangkat alisnya. Heran, tentu saja. Hinata yang ini berbeda dengan yang sebelumnya. Tapi dia tidak ingin memikirkannya terlalu jauh. Dengan santai ia berjalan menuju loker.

"Hei, jawab pertanyaanku dulu Naruto!" Hinata berjalan menghadang langkahnya.

Naruto berdecak. "Aku ingin mengambil bajuku di loker." Jawabnya datar.

Hinata tersenyum puas. "Nah, apa susahnya sih jawab pertanyaan begitu saja?" Hinata menggeser tubuhnya, mempersilakan Naruto untuk memasuki loker.

Pemuda itu lalu memasuki loker, dan mengambil sepotong baju training yang tergeletak di situ. Kemudian Naruto mulai mencopot kancing seragam sekolahnya. Hinata langsung tersadar dan mengalihkan pandangan dari ruang loker.

Berdua saja di Ruang Olahraga bersama Naruto yang sedang ganti baju.

BLUSH

Ukh, Hinata menutup wajahnya yang sudah semerah tomat sekarang. Kenapa kejadian ini terjadi justru disaat dia sudah memutuskan untuk melupakan Naruto? Ah Hinata, kau kan sudah tidak mencintainya lagi, bersikap biasa sajalah. Hinata menenangkan dirinya.

Beberapa saat kemudian Naruto keluar dengan pakaian yang sudah berganti. Dia memandang Hinata sekilas, Hinata menghindar. Lalu Naruto mendribble bola basket, pemanasan sebentar.

Setelah yakin wajahnya sudah normal lagi, Hinata memperhatikan Naruto "Hm, kau datang pagi-pagi begini karena ingin latihan ya. Naruto?"

Naruto hanya diam saja, masih sibuk dengan pemanasannya.

"Tapi yah, kau kan selama ini tidak pernah datang sepagi ini. Aneh juga rasanya melihatmu sudah datang ke sekolah pagi-pagi," Hinata masih saja bicara walau tak ditanggapi Naruto.

Naruto melakukan jump shoot. Dan masuk. Dia berlari mengambil kembali bolanya.

Hinata memandang Naruto dengan sendu. Dia tidak pernah menganggap kehadiranku sedikitpun. Batinnya. Lalu setelah menghela nafas, Hinata kembali bicara.

"Naruto, boleh aku bertanya?" tanya Hinata.

Naruto tetap diam dan sibuk melakukan shoot. Hinata mengangap itu sebagai 'ya'.

"Apa kau membenciku?" Tanyanya pelan.

Naruto yang awalnya hendak melakukan shoot, menghentikan tembakannya. Dengan posisi memunggungi Hinata, Naruto tetap hening. Tapi jelas, dia mendengarkan dengan baik pertanyaan Hinata tadi.

"Tidak apa-apa, kau boleh menjawab jujur. Aku akan berusaha untuk tidak akan sakit hati mendengar apapun jawabanmu... Aku yang dulu mungkin akan menangis semalaman jika mendengar jawabanmu. Tapi sekarang berbeda... Aku sudah menyerah padamu. Jadi, aku akan berusaha untuk tidak menangis dan mungkin... Aku harus mulai menjauh sedikit demi sedikit dari hidupmu..." Hinata melanjutkan ucapannya.

Naruto mendadak berbalik, memandang Hinata. "Kau bilang apa tadi?" Tanyanya dingin.

Hinata tergagap, sifat lamanya akhirnya kembali muncul. "Eh, bi-bilang apa?"

"Kau bilang—kau sudah menyerah padaku?" Suaranya tertahan.

Hinata memandangnya bingung, " I-Iya... Ah, ta-tapi aku sama sekali tidak bermaksud apa-apa." Hinata buru-buru menambahkan.

Naruto hanya diam, matanya terus memandang ke bawah.

"Mm, jadi, bisa kau jawab pertanyaanku Naruto?" Pinta Hinata takut-takut. Naruto sepertinya sedang bad mood.

Naruto mengangkat wajahnya, memandang Hinata tajam. "Ya, aku membencimu." Jawabnya datar.

Hinata tersenyum pelan. Ah, kenapa masih saja terasa sakit? Batinnya.

"Dan tahukah kau kenapa aku membencimu?" Naruto kembali bicara dengan mata masih menatap tajam Hinata.

"Ke-kenapa?" Hinata menunduk, tak kuat jika harus mendengarnya. Padahal tadi dia bilang dia tidak akan sakit hati, tapi tetap saja dia merasa tidak sanggup.

Naruto berjalan perlahan mendekatinya. Lalu ketika sudah berada tepat di hadapan Hinata, Naruto membuka mulutnya. "Aku membencimu, karena kau telah membuatku jatuh cinta padamu."

Hinata tersentak kaget, dia menatap Naruto tak percaya. "Kau—apa?" Tanyanya tak yakin.

Naruto berdecak. "Haruskah aku mengulanginya?"

Wajah Hinata memerah. "A-aku hanya bingung. Jika kau memang—mencintaiku (BLUSH), kenapa kau membenciku?"

Naruto menutup matanya sebentar lalu menjawab pelan. "Itu karena-" Dia diam sesaat, lalu kembali membuka mulutnya. "Aku tidak suka dengan perasaan aneh yang menjalar diriku tiap aku di dekatmu, aku tidak suka bila jantungku berdetak lebih cepat bila melihat wajahmu, aku tidak suka ketika aku menjadi salah tingkah jika kau menyapaku. Itulah sebabnya aku membencimu." Jawab Naruto. Mungkin ini kata-kata terpanjang yang pernah dikatakan Naruto pada Hinata.

Hinata makin bingung mendengar 'pernyataan cinta' Naruto. "Eh, ta-tapi kau tidak pernah terlihat salah tingkah."

"Aku selalu bersikap dingin padamu untuk menutupinya," balas Naruto singkat. Lalu dia memandang Hinata. "Tapi kau bilang, kau sudah menyerah padaku."

Hinata tidak tahu harus berkata apa. "I-Itu karena... A-Aku selalu merasa tertekan dengan sikap dinginmu padaku, tapi ternyata kau-"

"Jadi-" Naruto memotong ucapan Hinata. "Apa sekarang kau masih menyerah padaku?"

Hinata menggigit bibirnya. "A-aku, aku tidak tahu. Apa kau serius padaku? Apa setelah yang kita lalui selama ini, sikap dinginmu itu nanti akan berubah atau tidak? Apa nanti-"

"Ck." Naruto berdecak, kembali memotong. "Kau tahu? Hanya kau satu-satunya orang yang sanggup membuatku tidak bisa tidur semalaman hanya karena memikirkanmu."

Wajah Hinata kemabali memerah. "Eh, i-itu serius?"

Naruto mendesah. Lalu mendadak dia mendekatkan wajahnya pada wajah Hinata, kemudian bibirnya menyentuh bibir Hinata. Menekannya dengan lembut.

Hinata bagai mendapat sengatan listrik. Tubuhnya tak mampu bergerak, terlena dengan sensasi ciuman Naruto. Dia hanya diam saja ketika tangan Naruto merengkuh wajahnya. Ciumannya hangat. Batin Hinata.

Setelah beberapa saat, Naruto melepas ciumannya. Dia mengelap bibirnya dengan ujung kausnya. "Bagaimana? Apa itu sudah cukup sebagai bukti keseriusanku?"

Hinata masih shock dengan ciuman tadi, dia menjawab gugup. "Ciuman saja tidak cukup untuk menjadi tanda keseriusan, Naruto," gumamnya.

Naruto mengangkat alisnya. "Kau mau yang lebih dari sekadar ciuman?"

"Bu-bukan itu maksudku..."

"Kalau begitu tunggulah, aku akan membuktikannya di hari-hari selanjutnya," ujarnya. Kali ini ia memunculkan senyum yang selalu ingin dilihat oleh Hinata, dan kini akhirnya Naruto tersenyum untuknya. Senyuman tulus dan penuh kasih sayang yang terasa hangat.

Hinata tersenyum. "Kalau begitu kau sudah tidak membenciku lagi kan?"

Naruto menyentuh lembut helaian rambut indigo Hinata. "Kalau sudah begini, mana mungkin aku membencimu." Dan bibir mereka berdua kembali bertemu.

Thanks to : https://www.facebook.com/FanficNaruhinaAndAllCoupleIndonesia?fref=ts

Maukah Kau Menungguku



Maukah Kau Menungguku  | suatu ketika hinata sedang berjalan-jalan di desa (sebelum hancur oleh invasi pain), ia tidak sengaja lewat kios ramen favorit naruto. sebenarnya ia tidak bermaksud masuk kedalamnya, namun ia penasaran dan ingin melihat siapa yang sedang makan di dalam. begitu masuk ternyata bukan naruto hanya pemuda asing yang seumuran dengannya. "selamat dataang" pak tua itu menyambut hinata.

***********
"ada yang bisa kulakukan untuk mu hinata?" tanya asame asisten pak tua pemilik ramen.
"ah, tidak aku hanya... emm tidak. tidak perlu... aku..." kata hinata agak gagap.
lalu pemuda disampingnya (terlihat cukup tampan) dengan percaya diri tersenyum sambil menatap hinata. dan hinata menatap balik sambil berkata "ada apa melihat ku seperti itu...?"
"ah tidak, kalu dilihat lihat, kau cantik juga." kata pemuda itu
"apa maksudmu?" jawab hinata.
"tidak ada maksud apa-apa. hanya mengagumi mu. padahal kita baru pertama bertemu. hei (menyodorkan tangan hendak berjabat tangan) namaku... (belum sempat memperkenalkan namanya hinata langsung menengok kebelakang karena merasa ada sesuatu)...

**************
"srrrk... (suara kain penutup yang diangkat dari kios ramen)
"lho hinata..." terkejut sakura
"oh, sakura..." sahut hinata
"sedang apa kau disini. tidak biasanya kamu mau makan di tempat seperti ini..." kata sakura
"ah, tidak. tidak ada apa-apa, aku hanya..." kata hinata yang belum sempat menyelesaikan pembicaraannya, lalu sakura menoleh ke arah pemuda di situ..
"hei, kau pergi bersama orang ini?" kata sakura
hinata menjawab "tidak aku tidak menge..." lalu pemuda itu menyela
"dia pacarku..."
.
.
.
.
"wah wah wah... aku tak menyagka, ya hinata. kau punya pacar yang cukup tampan juga..." kata sakura yang tersenyum.
lalu hinata mencoba membantah "tidak tidak, bukan aku tidak menge..." belum sempat menyelesaikan perkataannya, pemuda itu berdiri lalu menarik tangan hinata dan mengajaknya pergi sambil berkata "hey bukankah kita mau ke taman... ayolah aku sudah selesai..." lalu hinata dibawa olehnya
"hentikan, apa yang kau lakukan! " kata hinata yang melawan...
"diamlah..." kata pemuda itu
"PLAK, DUK BRUGG...!!!" pemuda itu di hajar sedikit oleh hinata dan dijatuhkan olehnya hingga tersungkur, "katakan apa maumu...! kata hinata membentak
"tu..tunggu, dengarkan aku, aku ada perlu denganmu... maaf aku harus berbohong, kumohon..." kata pemuda itu

lalu hinata terdiam sejenak, sepertinya ia perlu memahami ini dulu dan memberi kesempatan pada pemuda itu.

Thanks to : https://www.facebook.com/pages/Fanfic-naruhina/411984962202088?fref=ts

Kebangkitan Sang Legenda Shinobi



Kebangkitan Sang Legenda Shinobi | Sejak zaman dahulu...orang-orang takut dengan Youkai...Dan di sanalah ia muncul...seseorang yang berdiri di depan para Youkai...Seseorang yang memimpin 'Parade malam seribu Youkai'...Dikenal sebagai pimpinan tertinggi para Youkai...Dia... pemimpin dari semua arwah jahat...Juubi no Ookami...

Membuka matanya, Naruto tidak terkejut lagi saat mendapati dirinya berada di tempat yang tidak asing lagi baginya. Sebuah lorong raksasa dengan pipa yang merambat di sekitarnya, air sebatas mata kaki dan tak lupa sebuah penjara raksasa dengan kanji untuk 'segel' di pintu keluarnya.

Hanya saja, kali ini bukannya sosok familiar Kyuubi yang menyambutnya, melainkan sosok mengintimidasi Juubi yang telah menunggunya.

"Selamat datang, Naruto." Sapa Juubi sambil memandangi sosok Naruto dengan mata tunggal miliknya.

"Ya, terima kasih untuk sambutannya, Juubi. Omong-omong, untuk apa kau memanggilku kemari?" tanya Naruto yang memandang balik sosok Juubi dengan kedua mata yang menyerupai milik Juubi.

"Pertama, aku ingin mengucapkan selamat atas kemenanganmu dari Mikoto. Untuk standar Makai, Mikoto termasuk Youkai yang berada di kelas tertinggi dalam hal kekuatan. Kau boleh bangga dengan pecapaianmu itu." Ujar Juubi sembari membalikkan badannya dari Naruto.

Menerima pujian dari Juubi, Naruto hanya bisa tertawa sambil menggaruk bagian belakang kepalanya dengan gugup.

"Tetapi Naruto..." lanjut Juubi dengan nada serius, membuat Naruto segera berhenti tertawa dan menegakkan tubuhnya dengan pandangan serius di wajahnya.

"Di Makai, masih ada Youkai lain yang lebih kuat dan lebih ganas dari Mikoto. Masih ada Youkai yang bahkan dapat membuat Mikoto terlihat seperti kucing manis yang tak berbahaya. Dengan kekuatanmu saat ini, kau tidak memiliki harapan untuk menang dari mereka, para penguasa Makai saat ini, para Dark Lords." Mendengar ini, Naruto hanya bisa menundukkan kepalanya, merasa malu pada dirinya sendiri yang begitu lemah.

"Aku pernah menjadi penguasa Makai bukan tanpa alasan. Buah Setan, Senjata Suci, bahkan Senjata Dewa telah banyak digunakan untuk melawanku. Tapi semua tidak ada yang pernah bisa untuk sekedar melukaiku. Di dunia ini, kekuatanku tak terkalahkan! Tetapi di dalam segel ini, perlahan tapi pasti, seluruh kekuatan dan daya hidupku tersedot oleh tubuhmu. Ini tidak akan memakan waktu yang lama sampai aku menghilang dari alam kehidupan ini. Karena itulah, Naruto... sekarang kau adalah pewaris tunggal tahta penguasa Makai yang sebenarnya! Sampai waktu itu tiba... aku akan memastikan kau tumbuh menjadi Youkai terkuat yang pernah menginjakkan kaki di tanah terkutuk Makai!"

Membalikkan badannya sekali lagi, Juubi melihat kobaran api yang telah lama tidak ia lihat kembali berkobar di kedua mata Naruto.

"Ya, tentu saja. Dengan kekuatan ini, dengan tahta ini dan dengan kesempatan kedua ini, akan kulindungi semuanya. Dan suatu hari... akan kuciptakan kedamaian bahkan di tanah terkutuk Makai!" seru Naruto dengan mata membara dan senyum lebarnya.

"Itu dia Naruto yang kupilih menjadi Jinchuuriki terakhirku!"

.

.

.

.

"Ahh..."

Terbangun dengan sedikit rasa sakit di kepalanya, Hinata segera membuka matanya dan mengamati tempatnya berada saat ini.

Ruangan serba putih, bersih, beberapa deret ranjang yang rapi... ah, ruang kesehatan sekolah.

Mengingat-ingat kembali kejadian yang terakhir kali ia ingat, Hinata segera meloncat bangun dari tempat tidurnya. Memastikan seragam yang ia kenakan telah rapi dan lengkap, Hinata segera berlari-lari kecil menuju pintu keluar ruang kesehatan.

Melewati bagian laki-laki, tiba-tiba langkah Hinata terhenti saat didapatinya sosok yang tengah menjadi pusat kekhawatirannya saat ini.

'Naruto-kun...'

Di salah satu ranjang yang tersedia di bagian laki-laki, tampak sosok penuh perban Naruto yang terlihat tengah tertidur lelap dengan sosok cantik perempuan berambut merah panjang yang juga terlihat tengah tertidur di samping ranjang Naruto.

'U-Uh... siapa gadis yang tidur di samping ranjang Naruto-kun itu? Dia sangat cantik...' dan entah kenapa, hal itu membuat hati Hinata terasa perih.

Memutuskan untuk bersembunyi di balik gorden yang memisahkan bagian laki-laki dan jalan keluar ruang kesehatan sekolah, Hinata kembali mengamati sosok Naruto dan sosok gadis cantik isterius itu.

Setelah mengamati dengan lebih baik, Hinata hampir saja berteriak panik saat didapatinya salah satu tangan gadis itu dan tangan Naruto saling berpegangan dengan erat. Tetapi tetap, setelah melihat itu, pikiran Hinata langsung berada dalam mode paniknya.

'Eh?! Bagaimana ini? Siapa gadis itu? Kenapa ia berpegangan tangan dengan Naruto-kun? Kenapa ia rela menunggui Naruto-kun? Bagaimana kalau ternyata dia adalah selingkuhan Naruto-kun selama ini? Lebih buruk lagi, bagaimana kalau dia adalah tunangan rahasia yang telah dijodohkan oleh orang tua Naruto-kun sebelum-' belum sempat menyelesaikan pemikirannya, angan-angan Hinata segera terputus saat didengarnya erangan lembut dari gadis berambut merah.

"Enghhh..."

Terbangun dari tidur singkatnya, Kushina segera membuka kedua matanya dan hampir saja melompat kaget dari tempat duduknya saat didapatinya sosok pemuda misterius berambut kuning yang tengah menggenggam tangannya dengan erat.

Kembali mengingat kejadian yang terjadi sebelumnya, Kushina kembali tenang dan duduk di tempat duduknya semula. Melihat tangannya yang masih digenggam erat oleh pemuda asing berambut kuning, Kushina tidak bisa berbuat apapun kecuali mengkerutkan dahinya.

Setelah ia menolong membawa pemuda ini ke ruang kesehatan sekolah, ia berniat akan segera pergi saat tiba-tiba tangan pemuda ini menggenggam tangannya dengan erat sambil menggumam 'Kaa-san...' dengan ekspresi wajah memelas, membuat Kushina tidak tega untuk melepaskannya.

Tanpa sepengetahuan Kushina ataupun Hinata, sebenarnya Naruto telah tersadar sejak sekitar 30 menit yang lalu. Dengan chakranya yang telah bercampur dengan youki milik Juubi ditambah dengan kemampuan regenerasi khas Jinchuuriki, seluruh luka di tubuh Naruto segera sembuh hanya dalam hitungan menit. Kecuali mungkin luka di bahunya yang cukup dalam, membutuhkan waktu sampai 1 jam untuk dapat sembuh total.

Melebarkan sensor chakra miliknya, Naruto segera merasakan kehadiran orang lain selain dirinya dan Kushina di ruangan itu.

'Hm... sepertinya youki ini tidak asing... Hinata-chan?' batin Naruto.

Merasakan bahwa dirinya telah cukup mendapat istirahat, Naruto segera membuka kedua matanya dan mendapati kedua mata coklat lembut Kushina yang menatap balik ke arahnya. Biru dan coklat saling bertatapan, masing-masing terperangkap di keindahan yang dimiliki lawannya.

Dan seperti itu, mereka terus berpandangan dengan ekspresi kagum di wajah masing-masing. Tanpa sadar, mereka berdua telah saling berpandangan sedikit terlalu lama untuk standar normal.

Hinata, yang melihat adegan Naruto dan Kushina saling berpandangan dengan background bunga-bunga indah serta kilauan-kilauan romantis tanpa sadar mengeluarkan youki dan aura membunuh yang sangat kuat, secara otomatis mengagetkan Naruto dan Kushina.

Terimakasih untuk aura membunuh dari Hinata, Naruto dan Kushina segera sadar dari keadaan love-struck mereka dan saling memalingkan muka ke arah yang berlawanan, berusaha menyembunyikan rona merah di wajah mereka.

Mengesampingkan sumber aura membunuh yang sekilas muncul, Kushina berusaha memulai percakapan dengan pemuda misterius ini.

"K-Kau sudah sadar, -ttebane?" tanya Kushina gugup, secara tidak sadar menggunakan logat khas miliknya.

"E-Eh... y-ya... terimakasih telah menolongku tadi, nona...?"

"Kushina, Uzumaki Kushina."

"Ah, ya, terimakasih telah menolongku tadi, Kushina-san." Balas Naruto dengan senyum malu-malu miliknya.

Hening...

Merasa gerah, Naruto segera berdiri dari ranjangnya dan menyobek secara –menurut Kushina dan Hinata- kasar perban yang melilit di tubuhnya, membuat Kushina dan Hinata hampir mengalami serangan jantung.

"Ap-Apa yang kau lakukan?! Lukamu parah dan masih belum sem..." belum sempat menyelesaikan kalimatnya, mulut Kushina segera menganga lebar saat dilihatnya tubuh telanjang bagian atas milik Naruto yang mulus tanpa ada bekas goresan apapun.

"...buh."

"Eh? Ahahaha... gomen, gomen... aku tidak bermaksud mengagetkanmu, Kaa- ehm, Kushina-san." Ucap Naruto dengan tertawa gugup karena hampir salah memanggil Kushina dengan Kaa-san.

"T-Ta-Tapi... Ba-bagaimana bisa?! T-Tadi lukamu dalam sekali, kenapa sekarang sudah tidak membekas?!" Balas Kushina yang masih dalam keadaan shock.

"Hehehehe, sejak kecil aku memang memiliki tingkat penyembuhan yang 'sedikit' lebih cepat dari rata-rata... jadi hal seperti ini sudah biasa bagiku." Bohong Naruto dengan mulusnya. Ya, tentu saja tidak sepenuhnya bohong. Sejak lahir ia telah menjadi Jinchuuriki, jadi tentu saja tingkat penyembuhanya telah berada di atas rata-rata.

Melihat Kushina yang hanya bisa membuka dan menutup mulutnya tanpa mengeluarkan suara seperti ikan, Naruto tertawa di dalam hati sambil mengagumi betapa miripnya Kushina di dunia youkai ini dengan ibunya yang telah meninggal.

Melirikkan matanya ke sisi lain ruangan, Naruto dapat melihat dengan jelas bayangan Hinata yang tengah bersembunyi di balik gorden dan mendengarkan percakapannya dengan Kushina.

Membisikkan sesuatu ke telinga Kushina, Naruto langsung menarik Kushina keluar dari ruang kesehatan tanpa menunggu persetujuan dari Kushina.

Hinata yang mendengar langkah kaki yang semakin menjauh segera mengintip keluar dari balik gorden dan melihat Naruto dan Kushina berjalan keluar dari ruang kesehatan.

Tanpa alasan yang jelas, tiba-tiba Hinata merasakan rasa perih di hatinya saat melihat Naruto pergi meninggalkannya dengan menggandeng tangan gadis lain.

Menghembuskan napas yang cukup panjang, Hinata segera beranjak dari ruang kesehatan dengan ekspresi murung di wajahnya.

"Hah~ sepertinya aku butuh udara segar untuk menghilangkan semua pikiran buruk tentang Naruto-kun ini. Mungkin aku akan jalan-jalan sebentar di sekitar sekolah..." gumam Hinata sambil berjalan keluar, tanpa menyadari sebuah Kage Bunshin Naruto yang mengikutinya dari balik bayangan.

.

.

.

.

Girl's Dorm

Untuk mengungkapkan sedikit dari banyak rasa terima kasihnya pada Kushina, Naruto memutuskan untuk menghantarkan Kushina kembali ke asrama perempuan mengingat hari telah beranjak malam.

Dalam perjalanan, Naruto dan Kushina saling bertukar cerita dan saling mengenal satu sama lain.

Salah satu fakta yang membuat Kushina kaget adalah marga Uzumaki yang berada pada nama Naruto dan fakta bahwa Narutolah yang telah mengalahkan Gaara, mantan ketua SPC di Youkai Gakuen.

Awalnya Kushina sedikit bingung dengan pilihan seragam yang dipilih Naruto untuk anggota SPC –atau yang sekarang sudah berganti nama menjadi Akatsuki- yang berupa model seragam murid berwarna hitam dan sebuah jubah hitam bermotif awan merah yang dipasang dipunggungnya, mirip seperti seorang Admiral angkatan laut yang pernah Kushina temui sebelumnya. Tapi setelah Naruto menceritakan sejarah dan arti nama dari Akatsuki, Kushina menjadi memakluminya.

Setelah sampai di depan kamar asrama Kushina, Kushina segera mengucapkan sampai jumpa pada Naruto dan berlari menuju kamarnya tanpa menunggu balasan dari Naruto.

Menggelengkan kepalanya, Naruto segera berbalik arah dan berjalan santai menuju asrama laki-laki.

Yah~ paling tidak itu yang akan ia lakukan jika saja ia tidak menerima ingatan dari Kage Bunshin miliknya yang beberapa saat tadi ia perintahkan untuk mengikuti Hinata, berjaga-jaga jika ada hal yang tak terduga terjadi.

Dan benar saja, hal yang terduga kembali terjadi pada Hinata. Dan kali ini, benar-benar tidak terduga...

Menghembuskan napas panjang, Naruto segera menghilang dari tempatnya semula dalam kilatan hitam yang menjadi ciri khasnya.

.

.

.

.

Hari ini benar-benar hari yang buruk bagi Hinata.

Pertama, ia terbangun di ruang kesehatan dan mendapati Naruto-kun sedang bermesraan dengan gadis lain, atau setidaknya itulah yang ia pikirkan.

Kedua, setelah memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar sekolah guna mencari udara segar, ia mendapati seorang gadis kecil berseragam Youkai Gakuen dengan topi khas penyihir tengah di bully oleh segerombolan murid nakal di pojok koridor.

Melihat salah satu pemuda di gerombolan murid itu mencoba memukul gadis itu, Hinata secara insting segera bergerak dan berdiri di antar gadis kecil dan gerombolan anak nakal itu dengan membentangkan kedua tangannya.

"Hentikan!" teriak Hinata dengan menutup kedua matanya.

Saat ini ia sedang tidak bersama Sakura dan Ino yang bisa membantunya ataupun Sasuke yang bisa melepaskan segel rosario di kalungnya dan melepaskan kekuatan Vampire miliknya. Jadi untuk saat ini, Hinata hanya bisa pasrah dan mengharap aksinya ini akan menghentikan murid-murid nakal itu.

Merasakan tidak ada pergerakan, Hinata memberanikan diri membuka matanya dan melihat gerombolan murid-murid nakal itu melempari Hinata dengan pandangan jijik.

"Apa ini? Seorang perempuan pendukung Half-Breed? Menjijikkan!" seru salah seorang dari mereka yang Hinata kira adalah pemimpinnya.

"Sebaiknya kita tunjukkan pada kedua orang ini apa yang akan terjadi jika kau menjadi Half-Breed dan pendukung Half-Breed!" seru salah satu anggota acak dari gerombolan itu.

Secara instan, seragam mereka langsung tersobek-sobek saat ratusan jarum panjang dan besar mencuat dari seluruh tubuh mereka. Tubuh mereka menjadi lebih bungkuk dan diikuti muka mereka yang berubah menyerupai tikus.

'I-Ini gawat! Aku tidak mungkin bisa mengalahkan mereka tanpa melepaskan rosario milikku!' batin Hinata panik.

"Ayo kita bereskan mereka, anak-anak!" dengan berbagai macam teriakan persetujuan dari anggotanya, mereka pun segera membulatkan badan berduri mereka dan meluncur menuju Hinata dan gadis cilik bertopi penyihir itu.

Tapi beruntung bagi mereka berdua, sebelum gerombolan Youkai landak itu berhasil mencapai mereka, sang gadis cilik segera mengayunkan tongkat sihir yang dipegangnya dan membuat beberapa loker di koridor terbang dan menindih kawanan Youkai landak itu.

Menggapai tangan Hinata, gadis cilik itu segera kabur sambil menarik Hinata.

Sampai di depan salah satu koridor utama Youkai Gakuen yang ramai dilalui murid-murid, mereka berdua pun segera berhenti berlari dan tertunduk sambil terengah-engah.

"Terimakasih... hah, untuk yang tadi... Hinata-chan." Ujar gadis cilik itu sambil menatap ke arah Hinata dengan rona merah di wajahnya.

"Y-Ya... tidak usah dipikirkan... umm..." mengerti maksud Hinata yang belum mengenalnya, gadis cilik itu segera berdiri tegak dan melompat di depan Hinata dengan senyum manis di wajahnya.

"Perkenalkan! Namaku Koharu Moegi! Senang bertemu denganmu, Hinata-chan!"

"Ya, salam kenal juga, Moegi-chan..." balas Hinata sambil memeluk Moegi karena tidak tahan dengan wajah imutnya.

Moegi yang ada di pelukan Hinata hanya bisa blushing tingkat tinggi sebelum tiba-tiba sebuah seringai nakal muncul di bibirnya.

Hinata yang tengah memeluk Moegi langsung dikejutkan dengan tindakan Moegi yang tiba-tiba memegang payudaranya dan meremas-remasnya dengan cukup keras, namun masih tergolong lembut.

"A-Ahhh..." desah Hinata sambil melepaskan pelukannya pada Moegi dan melihat kebawah, hanya untuk mendapati seringai nakal Moegi yang diarahkan padanya.

"A-Ahh... tolong le-lepaskan aku Moegi-chan... ahhh~" ujar Hinata di antara desahan-desahannya.

Moegi yang mendengar desahan dan permintaan Hinata, bukannya berhenti, malah semakin bernapsu dan melanjutkan kegiatannya.

Otomatis, dengan semua desahan-desahan ini, mereka berdua segera dikelilingi oleh murid-murid Youkai Gakuen yang entah sedang mimisan atau bahkan telah pingsan kehabisan darah.

"Aku sudah lama menantikan saat-saat ini, Hinata-chan... setiap aku melihatmu berjalan di halaman sekolah seorang diri... dan setiap aku melihatmu membantu orang lain... aku rasa aku telah jatuh cinta padamu, Hinata-chan..." bisik Moegi pada Hinata yang hanya bisa pasrah dan mendesah tidak jelas.

Belum sempat melanjutkan aksinya, tiba-tiba Moegi merasa kerah bajunya ditarik oleh seseorang dari belakang dan ditahannya di udara.

"Hm... walaupun aku sangat ingin mendengar desahan Hinata-chan, tapi aku rasa untuk saat ini kau telah berbuat cukup jauh, gadis kecil~"

Membalikkan badannya, Moegi langsung memasang wajah pahit saat ia melihat sosok pirang dengan jubah hitam bermotif awan merah yang belakangan ini tengah menjadi bahan pembicaraan terhangat di seluruh sekolah.

"Uzumaki Naruto, murid baru di Youkai Gakuen dan ketua baru dari SPC atau Akatsuki. Type monster tidak diketahui, asal-usul tidak diketahui, kepintaran di bawah rata-rata, fisik sangat jauh di atas rata-rata." Balas Moegi dengan nada dingin pada Naruto yang hanya dibalas dengan pandangan tertarik oleh Naruto.

"Walaupun kau seorang ketua dari Akatsuki, tidak berarti kau pantas bersanding dengan Hinata-chan, Uzumaki! Sekarang turunkan aku sebelum aku memaksamu dengan cara kasar!" teriak Moegi sambil mengayunkan tongkat sihirnya dan membuat beberapa sapu dari loker penyimpanan terdekat segera meluncur dengan cepat dari arah belakang Naruto.

Para murid yang melihat ini baru berniat untuk berteriak memperingati Naruto sebelum tiba-tiba seluruh sapu yang mengarah pada Naruto terbakar oleh api hitam yang entah muncul dari mana, membakar sapu dalam sekejap tanpa menyisakan abu sekalipun.

"Hm... itu trik yang cukup menarik, tapi tidak cukup untuk membantumu saat ini..." ujar Naruto dengan kalem.

Menyadari posisinya yang terdesak, Moegi segera menggigit tangan Naruto yang memegangnya dan saat Naruto dengan refleks melepas pegangannya pada Moegi, ia segera berlari sekencang mungkin dari Naruto dan Hinata.

'Uzumaki Naruto...! Kau hanya menjadi penghalang di antara cintaku dengan Hinata-chan! Secepatnya, kau akan segera ku singkirkan, Uzumaki!'

.

.

.

.

To Be Continued...

Credit to : https://www.facebook.com/pages/Fanfic-naruhina/411984962202088?fref=ts